Profil Kabupaten Aceh Tengah

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Kabupaten Aceh Tengah merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Aceh. Dikatakan Aceh Tengah karena terletak di tengah-tengah Provinsi Aceh dengan Ibukota adalah Takengon. Penyusunan gambaran umum kondisi Kabupaten Aceh Tengah berpedoman kepada Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten (RTRWK) Aceh Tengah Tahun 2016-2036,  Kondisi umum daerah Kabupaten Aceh Tengah digambarkan dalam beberapa aspek yaitu aspek geografi dan demografi, kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum serta daya saing disajikan sebagai berkut :

1.  Aspek Geografi dan Demografi

Aspek ini menggambarkan karakteristik lokasi dan wilayah, potensi pengembangan wilayah, wilayah rawan bencana, dan demografi.

A. Kondisi Geografis, Karakteristik Lokasi dan  Wilayah

Kabupaten Aceh Tengah memiliki luas 452.753,40 ha dengan batas wilayah administratif Kabupaten Aceh Tengah (Gambar 2.1)sebagai berikut:

  1. Sebelah Utara  :              Kabupaten Bener Meriah, Bireuen dan Pidie;
  2. Sebelah Timur  :              Kabupaten Aceh Timur dan Gayo  Lues;
  3. Sebelah Selatan:            Kabupaten Gayo Lues, Aceh Barat dan Nagan Raya;
  4. Sebelah Barat :              Kabupaten Aceh Barat, Nagan Raya, Gayo Lues dan Pidie.

B. Administrasi Wilayah Kabupaten Aceh Tengah

Secara administratif pemerintahan, wilayah Kabupaten Aceh Tengah terbagi atas 14 kecamatan, 20 kemukiman dengan jumlah kampung definitif sebanyak 295 dan 58 kampung persiapan. Nama-nama kecamatan serta luas pada masing-masing kecamatan disajikan pada Tabel berikut:

Luas Wilayah Administrasi Kecamatan Kabupaten Aceh Tengah

No Kecamatan Kemukiman Jumlah Kampung Luas Wilayah Luas
Definitif Persiapan (Ha)
1 Linge 4 26 186.266,36
2 Bintang 2 24 52.194,84
3 Lut Tawar 2 18 8.759,04
4 Kebayakan 1 20 5.483,16
5 Pegasing 1 31 27.177,90
6 Bebesen 1 28 2.956,55
7 Kute Panang 1 24 3.514,71
8 Silih Nara 1 33 59.424,60
9 Ketol 1 25 58.965,71
10 Celala 1 17 13.620,55
11 Atu Lintang 1 11 6.717,08
12 Jagong Jeget 1 10 17.123,84
13 Bies 1 12 1.401,43
14 Rusip Antara 2 16 9.147,63
Total 20 295 452.753,40

Berdasarkan Peta Rupa Bumi Bakosurtanal skala 1:50.000, posisi astronomis Kabupaten Aceh Tengah terletak pada 40 22’ 14,42” – 40 42’ 40,8” LU dan 960 15’ 23,6” – 970 22’ 10,76” BT. Dengan posisi tersebut seperti wilayah Indonesia pada umumnya, Kabupaten Aceh Tengah juga berada di kawasan iklim tropis, hal ini membuat Kabupaten Aceh Tengah selalu disinari matahari sepanjang tahun dengan memiliki dua musim yakni musim hujan dan kemarau. Dari sisi perbedaan waktu, Kabupaten Aceh Tengah termasuk dalam daerah waktu Indonesia Bagian Barat (WIB).

Ditinjau dari aspek posisi geostrategic, Kabupaten Aceh Tengah termasuk salah satu daerah dataran tinggi di Aceh dan merupakan bagian punggung pegunungan bukit barisan yang membentang sepanjang Pulau Sumatera. Disamping itu, Kabupaten Aceh Tengah memiliki suhu udara yang relatif sejuk. Kondisi ini menjadikan Kabupaten Aceh Tengah berpotensi menjadi daerah wisata alam ditambah kehadiran Danau Laut Tawar yang indah dikelilingi oleh perbukitan yang ditumbuhi pohon Pinus Merkusi. Disamping itu, Kabupaten Aceh Tengah merupakan daerah agraris dengan komuditi seperti; andalan kopi arabika, kentang, tomat, alpukat, jeruk keprok dan cabai.

Kabupaten Aceh Tengah memiliki aksesibilitas yang relatif baik sehingga akses kesemua kampung dapat dijangkau. Berdasarkan hal tersebut Kabupaten Aceh Tengah tidak memiliki daerah pedalaman. Kabupaten Aceh Tengah merupakan dataran tinggi Gayo dengan topografi wilayah bergunung dan bukit, banyak gunung yang tersebar terhampar di wilayah Aceh Tengah, diantaranya Burni Klieten.

C. Topografi, Geologi, hidrologi dan klimatologi

Kabupaten Aceh Tengah memiliki karakteristik tofografi yang beragam, berbentuk datar, landai sampai bergunung. Bentuk wilayah yang berbukit mendominasi topografi Aceh Tengah. Klasifikasi kelerengannya berturut-turut <8 persen, 8-15 persen, 16-25 persen, 26-40 persen, dan >40 persen. Berdasarkan kelompok kelerengan tersebut lahan dengan kelerengan 25 -40 persen mendominasi wilayah Aceh Tengah dengan luasan 184.932,46 Ha atau sebesar 41,52 persen dari total luas wilayah kabupaten.

Wilayah Kabupaten Aceh Tengah memiliki ketinggian di atas permukaan laut mulai dari 100 m dpl hingga lebih 2.000 m dpl. Daerah dengan ketinggian antara 1. 500 – 1. 750 m dpl mendominasi wilayah Aceh Tengah dengan persentase sebesar 24,18 % dari luas wilayah kabupaten. Daerah dengan kisaran ketinggian tersebut harus dilindungi oleh tegakan pohon, hal ini dimaksudkan agar berfungsi sebagai pelindung hidrologis dan menjaga keseimbangan ekosistem sehingga bencana alam seperti banjir bandang dan tanah longsor dapat terminimalisasi. Kondisi karakteristik ketinggian tempat di atas permukaan laut. Struktur geologi yang berkembang di willayah Kabupaten Aceh Tengah berupa lipatan-lipatan yang membentuk sinklin dan antiklin serta sesar-sesar (patahan). Arah sesar kurang lebih berarah barat laut – tenggara dan utara – selatan. Sedangkan antiklin mempunyai arah kurang lebih barat – timur. Persebaran jenis tanah di Kabupaten Aceh Tengah.

Secara umum jenis tanah di Kabupaten Aceh hampir mewakili jenis di Indonesia yang terdiri atas grumosol, podzolik, rendzina, andosol, mediteran, latosol dan alluvial. Jenis tanah salah satu faktor yang berhubungan dengan karakteristik tanaman yang tumbuh disamping faktor lingkungan lainnya. Jenis tanah podzolik yang merupakan salah satu jenis tanah yang banyak dijumpai, memiliki daya dukung yang tinggi untuk digunakan sebagai lahan pertanian khususnya pertanian lahan basah.

Arah dan pola aliran sungai dan melintasi wilayah Aceh dapat dikelompokkan atas dua pola utama, yaitu ; Sungai-sungai yang mengalir ke Samudera Hindia atau ke arah barat dan Sungai-sungai yang mengalir ke Selat Malaka atau ke arah timur. DAS yang terdapat di Kabupaten Aceh Tengah antara lain; a). DAS Jambo Aye seluas 193.924,37 Ha; b). DAS Woyla seluas 53.236,86 Ha; c). DAS Peusangan seluas 127.452,79 Ha; d). DAS Meureubo seluas 52.865,53 Ha; e). DAS Tripa seluas 14.955,02 Ha; f). DAS Tamiang Langsa seluas 5.317,28 Ha; g). DAS Seunagan seluas 4.941,07 Ha dan h). DAS Peudada seluas 60,48 Ha.

Kabupaten Aceh Tengah memiliki 3 danau dan yang terbesar adalah danau Laut Tawar dengan luas 5,742.10 ha terletak di sebelah Timur Kawasan Perkotaan Kabupaten Aceh Tengah Provinsi Aceh, dimana daerah tangkapan Danau Laut Tawar secara administratif masuk kedalam wilayah Kecamatan Lut Tawar, Kebayakan, Bebesen dan Kecamatan Bintang. Danau Laut Tawar memiliki aliran masuk (inlet) sebanyak 17 sungai dan anak sungai dengan besar debit air masuk bervariasi antara 0.04–1.44 m3/detik dengan debit total sebesar 8.80 m3/detik (Husnah et al. 2013 dan Iriadi 2015). Danau ini memiliki satu aliran keluar (outlet) yaitu Sungai Peusangan dengan debit aliran sebesar 29.02 m3/detik (Iriadi 2015). Besar debit aliran keluar tersebut dimanfaatkan oleh pemerintah melalui kegiatan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kreung Peusangan 1 dan 2 dengan kapasitas 84.6 MW yang ditargetkan beroperasi di tahun 2019. Adapaun parametik Danau Laut Tawar sebagaimana tercantum pada tabel Berikut:

Nilai Parametik Karakteristik Morfoketik Danau Lut Tawar

No Parameter Nilai Satuan
1 Elevasi 1,23 Meter
2 Luas Permukaan (Ao) 5,742.10 hektare (ha)
3 Kedalaman maks (Zmax) 84.23.00 Meter
4 Kedalaman rata (Zmean) 25.19.00 Meter
5 Panjang Maks 15,727 Meter
6 Lebar Maks 4,563 Meter
7 Panjang Garis Pantai (L) 43,92 Meter
8 Littoral Area 14.28 %

Selain Untuk energi dan Pariwisata, Danau ini berperan penting dalam pengendalian keseimbangan air khususnya Perkotaan Takengon dan menjadi sumber air untuk Kabupaten Bener Meriah, Bireuen, Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe. Air danau terutama dimanfaatkan untuk air minum dan budidaya perikanan air tawar sebagai mata pencaharian bagi para nelayan yang tinggal di sekitar danau.

Berdasarkan pengamatan terakhir, kondisi Danau Laut Tawar kini sudah mengalami degradasi, yang dicirikan oleh semakin berkurangnya debit air Danau Laut Tawar dan tingginya sedimentasi yang terjadi di Danau Laut Tawar. Hal ini disebabkan oleh semakin berkurangnya tutupan lahan di sekitar Danau Laut Tawar dikarenakan alih fungsi lahan dari hutan menjadi areal perkebunan. Sementara di perairan danau, terjadi penurunan luasan perairan yang disebabkan oleh pemanfaatan lahan sempadan dan zona litoral danau untuk perluasan tempat wisata dan permukiman penduduk.

Kondisi Tutupan lahan

Penutupan Lahan Periode (Tahun) Perubahan ( %
Ha)
2002 (ha) 2012 (Ha)
Hutan lahan kering sekunder 6.545,98 7.518,00 972,02 3,85
Pertanian lahan kering campuran 10.210,43 9.169,00 (1.041,43) (4,12)
Pertanian lahan kering 705,60 656,00 (49,60) (0,20)
Sawah 1.377,78 1.204,00 (173,78) (0,69)
Permukiman 482,20 658,00 175,80 0,70
Tanah terbuka 99,00 240,00 141,00 0,56
Tubuh air 5.826,00 7.802,00 (24,00) (0,10)
Jumlah 25.246,99 27.247,00

Laju eksploitasi ikan di Danau Laut Tawar yang semakin tinggi yang berlangsung setiap hari dan ditambah pula kerusakan ekosistem danau terutama di kawasan pinggiran danau dan sumber-sumber air danau menyebabkan terhambat dan berkurangnya populasi ikan khususnya ikan depik. Menurut Muchlisin (2010), hasil upaya tangkapan ikan depik per unit (Catch Per Unit Effort, CPUE) pada tahun 1970 sebesar 1.17 kg/m2 jaring dan menurun menjadi 0.02 kg/m2 jaring di tahun 2009. Selain laju eksploitasi ikan yang tinggi (Hasri, at al. 2011), penyebab penurunan ikan depik lainnya adalah pencemaran perairan Danau Laut Tawar yang semakin hari semakin meningkat. Menurut Iriadi (2015) sedikitnya ada empat sumber bahan pencemar perairan danau antara lain; permukiman penduduk, pertanian, pariwisata dan Keramba Jaring Apung (KJA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber tertinggi berasal dari permukiman penduduk sebesar 58,40% disusul dengan pertanian (23,52%), pariwisata (17,75%) dan KJA (0,33%). Sesuai dengan PP Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, hasil analisis STORET menunjukkan bahwa status mutu air Danau Laut Tawar berada pada Kelas C atau “cemar sedang” dan Kelas B atau “cemar ringan”. Parameter yang menyebabkan mutu air danau tercemar (menggunakan mutu air kelas I), antara lain DO dengan skor (-2), COD (-10), TP (-2), timbal (-2). Parameter yang menyebabkan mutu air danau tercemar (menggunakan mutu air kelas II), antara lain TP (-2) dan timbal (-2), sedangkan parameter yang menyebabkan mutu air danau tercemar (menggunakan mutu air kelas III) adalah timbal (-2).

Dari sudut pandang ekonomi, empat sumber limbah tersebut memiliki potensi Nilai Ekonomi (NE) yang berbeda. Keramba jaring apung dengan luasan sebesar 0.31 ha memiliki potensi NE tertinggi (Rp.36.397.782.015/ha/tahun) dibandingkan dengan yang lainnya. Namun aktivitas tersebut berpotensi sebagai penyumbang Beban Pencemaran (BP) terbesar khususnya parameter TN dan TP (40,17 ton/ha/tahun), sedangkan aktivitas pertanian memiliki potensi NE dan BP terendah (Rp.894.598.072/ha/tahun dan 0,07 ton/ha/tahun) (Iriadi 2015).

Disisi lain, pemanfaatan ruang perairan Danau Laut Tawar cukup beragam dan menimbulkan masalah tersendiri. Tiap sektor pemanfaatan danau membutuhkan kriteria kualitas air dan lingkungan yang berbeda. Aktivitas KJA sangat tidak mendukung pariwisata yang berbasis perairan, baik dari sisi kualitas air maupun dari sisi kenyamanan lingkungan. Begitu juga aktivitas transportasi perairan danau yang terus berkembang dapat mengganggu wilayah zonasi kawasan konservasi (Nasution 2015). Wilayah Kabupaten Aceh Tengah merupakan daerah yang beriklim tropis, tergolong pada iklim tipe B menurut Schimidt Ferguson dengan curah hujan berkisar antara 2 603 – 3 725 mm/tahun. Musim kemarau biasanya terjadi pada bulan Januari sampai dengan Juli, dan musim hujan berlangsung dari bulan Agustus sampai bulan Desember. Kabupaten Aceh Tengah memiliki kelembaban udara dengan rata-rata 80,08 pesen. Kelembaban udara tertinggi 86,28 persen dan terendah 74,25 persen. Kecepatan angin tertinggi 2,53 m/det dan terendah 0,95 m/det.