Seni Budaya

KLUB KEMARA BUJANG

Gayo merupakan salah satu wilayah kebudayaan yang berada di Provinsi Aceh. Sebagai suatu wilayah kebudayaan tentu memiliki warisan budaya yang sampai saat ini masih berkembang di dalamnya. Ketika kita mendekati masyarakatnya, di Gayo perwujudan ekspresi berkesenian masyarakatnya begitu besar. Kesenian yang sifatnya massal maupun perorangan begitu mudah dijumpai.

Kampung kung merupakan salah satu Desa Pegiat Seni yakni seni didong yang sudah dijalani dari jaman dahulu, kesenian didong Desa kung diberi nama KEMARA BUJANG dan sampai saat ini masih berdiri kokoh dalam sejarah kesenian didong di kabupaten Aceh Tengah, kesenian didong dari desa kung sebagaimana disebut Kemara Bujang telah banyak berpartisipasi dalam kesenian antar daerah seperti Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) Tahun 2009, Exspo Budaya Louser Tahun 2010 dan telah banyak mengantongi udangan keluar daerah seperti pertunjukan didong di Gedung MPR RI pada acara Kopi Gayo dan banyak juga undangan datang dari masyarakat Gayo yang ada di Pulau Jawa lain lagi dalam kegiatan dalam daerah Kabupapaten Aceh Tengah.

(ALM. SALI GOBAL)

Klub kesenian Didong Kemara bujang di pelopori oleh Alm. Sali Gobal pada tahun 1940-an dia adalah seorang  Ceh/Vokal sekaligus pengarang syair didong yang sampai saat ini karangannya tidak asing lagi bagi masyarakat gayo. Syair hasil karangan dari Alm. Sali Gobal mengandung sastra yang sangat dalam sehingga butuh penghayatan yang sangat dalam juga untuk memahami makna kandungan dari syair didong karangannya. Peralihan generasi ke gererasi masih berlangsung sampai saat ini dan khusunya untuk klub kesenian didong di Desa Kung kiranya tidak akan mudah lenyap karna banyaknya generasi.

Didong merupakan salah satu kesenian yang pada saat ini masih terjaga kelestariannya pada masyarakat Gayo. Kesenian ini biasa dipertunjukkan dalam acara pernikahan, upacara penyambutan tamu-tamu baik kedinasan maupun non-kedinasan, dan juga dalam pentas-pentas seni dan budaya di Dataran Tinggi Gayo. Selain murni sebagai media hiburan, kesenian didong juga memiliki fungsi beragam. Didong bisa digunakan sebagai media dakwah, media sosialisasi program pemerintah hingga program sosial pendukung pembangunan. Didong Gayo juga sebagai representasi berkesenian masyarakat Gayo merupakan ekpresi kebudayaan yang memberikan gambaran kehidupan masyarakatnya. Kesenian ini mencerminkan sejarah budaya masyarakat pendukungnya. Dilihat dari proses perjalanan kesenian ini, didong memberikan harapan adanya keberlangsungan kebudayaan Gayo tentunya dengan adanya inovasi-inovasi dilain sisi Didong juga bisa dinyatakan sebagai salah satu varian dari “nyanyian rakyat” (folksong).  Dengan rumusan sederhana, kesenian didong dapat dinyatakan sebagai konfigurasi ekspresi seni sastra, seni suara, dan seni tari.